Kamis, 24 Februari 2011

Teruntuk S A H A B A T


Dalam kehidupan yang keras ini terkadang kita membutuhan bahu lain untuk bersandar. Terkadang saat pagi mulai datang dan energi kita menghilang entah kemana, kita butuh energi lain untuk bertahan.
Kehidupan bagaikan jalan yang penuh lubang yang harus kita arungi. Terkadang kita lengah dan terperosok jatuh. Terkadang lubangnya tidak terlalu curam hingga kita dapat berdiri sendiri. Ya, memang tetap saja kita merasakan terlukanya dikhianati kehidupan dan lebam-memarnya efek terjatuh sedangkal apapun lubangnya. Tapi terkadang lubangnya sangat dalam. Dalam sekali hingga kita tidak dapat melihatnya dasarnya. Dalam sekali hingga kita tidak hanya lebam dan memar. Saat itulah kita sadar kita tidak mungkin bisa berdiri sendiri, saat itulah kita membutuhkan tangan lain yang terulur menarik kita keluar.
Dalam hidup yang segaduh pasar malam ini, terkadang kita butuh sudut terasing yang menawarkan kesunyian. Sepi yang nyaman, tidak membunuh.
Dalam kehidupan yang mirip arena balap ini, terkadang kita merasa lelah luar biasa. Mungkin terkadang kita juga merasakan kejenuhan itu. Dan kita butuh pohon yang rindang dan sejuk untuk sejenak berhenti, sebelum melanjutkannya kita meneruskan berlari. Mengejar impian, harapan, cita-cita. Hingga akhirnya suatu waktu nanti, kita sampai digaris horizon. Menyentuh cakrawala.
Kalian adalah bahu
Adalah tangan yang terulur itu
Adalah sudut yang menawarkan kenyamanan itu
Adalah pohon rindang yang menyejukkan itu
Aku berterima kasih dan juga berharap dapat menjadi bahu, tangan yang terulur, sudut yang menawarkan kenyamanan, dan pohon yang rindang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar